|
|
![]() |
![]() |
|
||||||||||||||||||||||
|
|
|
||||||||||||||||||||||||
|
|
|
||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||
home | search
|
|
|
|||||||||||||||||||||||
|
15 Years of Pelangi | December-2007 Yayasan Pelangi Indonesia Pelangi has prepared a series of papers to celebrate 15 years of Pelangi's work. These papers are a result of three discussions involving various stakeholders covering Pelangi's working areas: climate change, energy, and transportation ![]()
Go to Spektrum >> Counter: 1 |
|
Penting untuk Negosiasi Perubahan Iklim Tahun 2009: Kemauan dan Kepemimpinan Politis Seluruh Negara 15 January, 2009; 09:00 Konferensi Iklim 2008 (COP 14 dan CMP 4) dilaksanakan di Poznan pada Desember yang lalu dengan fokus tentang kerja sama jangka panjang (long-term cooperation) dan rejim perubahan iklim pasca tahun 2012. Beberapa hal yang patut dicermati adalah: 1. Disepakatinya “Poznan strategic programme on technology transfer” untuk meningkatkan investasi bagi teknologi ramah lingkungan di negara berkembang 2. Terkait dengan Kajian Kedua Pasal 9 Protokol Kyoto (Second Review of Article 9 of Kyoto Protocol), terjadi perdebatan yang panjang sehingga penutupan Konferensi terpaksa diundur. Pada akhirnya, diputuskan bahwa Kajian Kedua diakhiri tanpa hasil karena tidak ada kesepakatan terkait dengan share of proceed dari ET dan JI. Pelangi Indonesia berpendapat bahwa hasil-hasil di atas tidak memenuhi harapan yang muncul sebelum perundingan. Kesepakatan yang dicapai di Poznan dinilai tidak menyentuh substansi utama dalam beberapa isu strategis, terutama yang berkaitan dengan komitmen bersama di dalam Bali Action Plan (BAP). Akibatnya, seluruh pihak harus bekerja keras untuk menyelesaikan semua hal penting yang harus dirundingkan dan disepakati sepanjang tahun 2009 ini agar keputusan tentang rejim perubahan iklim yang baru dapat dicapai di COP 15/CMP5. Berdasarkan Program Kerja 2009 yang disepakati di Poznan, seluruh proses pada tahun 2009 akan memasuki fase negosiasi penuh (full-negotiating mode). Sepanjang tahun ini akan diselenggarakan empat kali (atau lima, jika diperlukan) negosiasi iklim yang diawali dengan perundingan bulan Maret 2009 di Bonn, Jerman, dan diakhiri dengan COP15/CMP 5 di Kopenhagen, Denmark. Menyikapi keputusan tersebut, Pelangi Indonesia menyatakan bahwa negosiasi iklim tahun 2009 menuntut kemauan dan kepemimpinan politis (political will and leadership) dari aktor-aktor utama dalam perundingan-perundingan tersebut. Hal ini sangat penting karena seiring dengan berlangsungnya proses negosiasi, perubahan iklim terus terjadi secara cepat dan tidak dapat dihindari sehingga perundingan yang berlangsung sejauh ini tidak diyakini dapat mengejar ketertinggalannya terhadap fenomena alam yang terjadi. Poznan dapat dijadikan sebagai sebuah contoh di mana proses negosiasi yang berlangsung tidak diiringi dengan political will yang solid dari aktor-aktor utama, baik negara maju maupun negara berkembang. Selain itu, tidak muncul kepemimpinan politis yang menyebabkan tertundanya perundingan dan kesepakatan sehingga negara berkembang pun tetap meragukan komitmen negara maju, terutama yang terkait dengan penurunan emisi. Untuk mencapai kesepakatan global di Kopenhagen bulan Desember 2009 yang benar-benar efektif bagi semua pihak di dalam menghadapi masalah perubahan iklim, Pelangi Indonesia menyerukan negara-negara maju untuk memperlihatkan kemauan dan kepemimpinan politis mereka di dalam menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca yang ambisius serta memberikan dukungan pendanaan dan teknologi untuk aktivitas mitigasi dan adaptasi negara-negara berkembang. Di lain pihak, negara berkembang pun perlu berperan serta menunjukkan kemauan dan kepemimpinan politis mereka untuk megimplementasikan seluruh pilar BAP. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------- Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi: Press Release ini bisa didownload di http://pelangi.or.id/publikasi/2009/PRjan2009-Pelangi.pdf Catatan untuk editor: AWG-KP: Ad hoc Working Group on Kyoto Protocol adalah sebuah working group di bawah Protokol Kyoto yang dibentuk untuk membahas komitmen penurunan emisi gas rumah kaca oleh negara-negara maju setelah tahun 2012 AWG-LCA: Ad hoc Working Group on Long-term Cooperative Action adalah sebuah proses negosiasi di bawah Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim yang dibentuk untuk membahas apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan utama Konvensi Bali Action Plan: merupakan kesepakatan pada Konferensi Iklim di Bali pada tahun 2007 yang mencantumkan berbagai pokok pembahasan negosiasi sampai periode komitmen pertama Protokol Kyoto berakhir pada tahun 2012 CCS: Carbon dioxide Capture Storage ialah salah satu mekanisme mitigasi yang dilakukan dengan menangkap dan menyimpan gas rumah kaca ke dalam formasi geologi CDM : Clean Development Mechanism adalah salah satu mekanisme fleksibilitas di bawah Protokol Kyoto. Mekanisme ini adalah satu-satunya mekanisme yang melibatkan negara berkembang CER: Certified Emission Reductions adalah penurunan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan CDM COP: Conference of the Parties adalah pertemuan negara-negara peratifikasi Konvensi PBB untuk perubahan iklim. CMP: Conference Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties adalah pertemuan negara-negara peratifikasi Protokol Kyoto ET: International Emission Trading, yaitu salah satu mekanisme fleksibilitas di bawah Protokol Kyoto yang dilakukan antara sesama negara maju JI: Joint Implementation adalah salah satu dari tiga mekanisme di bawah Protokol Kyoto untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang dilakukan antara sesama negara maju Second Review of Article 9 of Kyoto Protocol: berdasarkan Pasal 9 pada Protokol Kyoto, secara berkala CMP wajib mengkaji Protokol Kyoto. Kajian Pertama dilakukan pada CMP 2 tahun 2006, sementara Kajian Kedua dilaksanakan di Poznan tahun 2008. Pembahasan ini sangat penting karena menghubungkan proses AWG-LCA dengan AWG-KP Share of Proceeds: sejenis iuran/retribusi/pajak yang diambil dari mekanisme fleksibilitas Protokol Kyoto untuk mendukung kegiatan adaptasi di negara berkembang - ad
Other Press Releases:
|
|
||||||||||||||||||||||
| archive... | |||||||||||||||||||||||||
|
For more information, contact info@pelangi.or.id. For general purpose, please use pelangi@pelangi.or.id. Copyright © 2010 Pelangi Indonesia | All information contained on this site may not be used for commercial purposes. |
|||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||