[about] [our programs] [news] [press release] [events] [publication] [live reports] [resources]
 
home | search


News from Pelangi | Pelangi in Media | Other News

Press Release

16-Nov-2009 | New Location - PELANGI INDONESIA

News from Pelangi

24-Aug-2010 | Adaptnet, 24 Agustus 2010

10-Aug-2010 | AdaptNet, 10 Agustus 2010

  Go to news area >>

Pelangi in the Media

22-Apr-2009 | “Generasi Hijau” di Hari Bumi

22-Apr-2009 | Negara Maju Harus Segera Penuhi Kewajiban Lingkungan

  Pelangi in Media >>

Spektrum Online
In Preparation

Go to Spektrum >>


Counter: 1
Other News

Suhu Permukaan Laut Menghangat
29-Jul-2010 | 07:01

Kamis, 29 Juli 2010 | 03:43 WIB

Surabaya, Kompas - Suhu permukaan laut di sekitar Jawa Timur menghangat. Akibatnya, penguapan air laut lebih tinggi sehingga hujan tetap terjadi pada musim kemarau.
Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, Ari Pulong, mengatakan, fenomena ini disebut kemarau basah. Meski sudah masuk musim kemarau, di beberapa wilayah, seperti Surabaya dan sekitarnya, masih hujan dengan intensitas rendah hingga sedang. ”Kemarau basah lazim terjadi apabila suhu air laut naik,” kata Ari, Rabu (28/7) di Surabaya.

Laut merupakan mesin iklim yang memengaruhi kondisi cuaca. Jika permukaan laut relatif dingin, curah hujan berkurang. Sebaliknya jika permukaan laut relatif hangat, curah hujan meningkat.

Selain hujan, dampak kenaikan suhu permukaan laut adalah peningkatan kelembaban dengan rentang 53-95 persen. Kelembaban meningkat, antara lain, setelah hujan pada pagi hari, suhu naik pada siang hari. Suhu udara 24-33 derajat celsius. Adapun kecepatan angin pada kisaran 5-30 kilometer per jam.

Dengan kecepatan angin itu, potensi cuaca ekstrem relatif minim. Cuaca ekstrem seperti angin kencang dan hujan deras cenderung tidak terjadi, kecuali jika ada badai bergerak di sekitar Jatim.

Tanaman rusak

Cuaca yang tidak menentu dengan hujan sering mengguyur Bojonegoro merepotkan petani tembakau. Sebelumnya, petani harus tambal sulam atau menanam ulang karena benih mati. Kini, tanaman tembakau terancam rusak dan kualitasnya buruk karena curah hujan masih tinggi.

Tanaman tembakau ada yang terendam air hujan. Selain itu, daun bagian bawah hingga tengah menguning.

Kondisi ini dialami petani tembakau di Desa Tegalkodo, Purwoasri, Sitiaji, Jumpur, Pacing, Kecamatan Sukosewu; dan Desa Mbalongrejo, Glagahwangi, Terate, Kecamatan Sugihwaras.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Bojonegoro Johny Nurhariyanto menyatakan, hingga saat ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan masih memantau tanaman tembakau.

Lahan yang biasa ditanami tembakau di Bojonegoro tersebar di Kecamatan Kanor, Baureno, Kepohbaru, Kedungadem, Sumberrejo, Sugihwaras, Sukosewu, Balen, Temayang, Dander, dan Ngasem. Tembakau membutuhkan sinar matahari yang cukup.

Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Perkebunan, areal tanaman tembakau jenis Virginia VO di Bojonegoro ada 8.681 hektar dan jenis tembakau Jawa luasnya 959 hektar. Hujan dikhawatirkan memengaruhi kualitas tembakau.

Petani diimbau meninggikan guludan (gundukan) tanah tempat menanam tembakau dan hanya menanam satu baris untuk mengantisipasi genangan air hujan.

”Petani diminta membangun saluran air di sawahnya. Jika sawahnya tergenang, air bisa cepat terbuang,” kata Johny.

(RAZ/ACI)
Source:Kompas

Views: 73

Send to friend | Text only

archive...


For more information, contact info@pelangi.or.id. For general purpose, please use pelangi@pelangi.or.id.
Copyright © 2010 Pelangi Indonesia | All information contained on this site may not be used for commercial purposes.
[main page]